Melatih Kecerdasan Finansial Anak Part 3

Bismillah masih lanjut postingan hari ke-3 tentang melatih kecerdasan finansial anak. 

Masih berkaitan dengan kegiatan tadi pagi bermain teselation puzzle, maka setelah dia tenang dari merajuknya, saya coba selipkan aspek mengelola keuangan dengan memulih barang sesuai dengan kebutuhannya. 

Saya mulai tadi dengan percakapan kepada fifah sambil dia main puzzle. Kebetulan puzzle ini memang baru beberapa hari lalu saya belikan. 

S : Fifah senang ga main puzzle ini?
F : Senang 
S : Menurut fifah, bermanfaat ga mainan ini buat fifah?
F : Iya lah. Fifah kan jd bisa belajar bikin bwntuk-bentuk.

S : Nah, itulah kenapa bunda saat ini belikan fifah mainan ini. Mainannya dari kayu. Bukan mainan plastik. Kira-kira mwnurut kk, kenapa bunda lebih senang yg kayu dr yg plastik?

F : Karena apa fifah ga tau?
S : Karena mainan kayu lebih tahan lama. Bisa dipake adek nanti. Nah itu jg jadi bentuk bunda mengelola keuangan. 
F : Nanti kan dia rusak juga bunda?
S : Tentu yg namanya barang akan rusak, tapi kita harus liat tujuan dan fungsinya juga. Mainan ini bunda anggap berguna banget di usia fifah, ga bisa ditunda karena lagi pas banget dg usia fifah dan kebutuhan fifah. 
F : Kalau mainan yang plastik2an itu?
S : bunda anggap kakak sudah banyak, dan rata2 kan mainan masak2an. Kita kan bs ganti dg beneran masak di dapur.
F : Nanti fifah dbelikan apalagi ndah?
S : yeeeee ga setiap saat beli mainan. Diliat dulu fungsinya apa. Hehehe. 

Begitulah kira-kira obrolan ringan kami tadi saat bermain bersama tadi. 



Sekian dulu setoran tugas malam ini. Mari kita pikirkan tugas besok πŸ˜‚

#hari3
#tantangan10hari
#gamelevel8
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional






Bermain Tesselation Puzzle


Alohhaa... Assalamualaikum. 
Mau menulis kejadian seru pagi ini. 



Kalau liat foto ini, kesannya manis banget yekan duduk manis diem πŸ˜†

Padahal, taukah anda, bahwa ini dia tadi lagi ngambek sama ayahnya yang dari kemarin pagi sibuk sebagai panitia sebuah acara sampai minggu besok. Pergi pagi pulang malam (untung ga setiap saat, ga setiap minggu 🀣).

"Mestinya ayah itu sabtu minggu libur main sama fifah" dan dia ngamuk bahkan sampe mandi pagi pun nangis 😬😬😬

Ya Allah nak, kita sudah pernah lho di fase ditinggal ayah 2 minggu kerja 2 minggu off, tapi di fase itu fifah blm bisa ngambek karena masih kecil banget πŸ˜„

Disinilah emaknya akhirnya ngasih wejangan bahwa ada kalanya kita harus mengikuti aturan, ga bisa semau-maunya kita. Contohnya kondisi ayah sekarang yang lagi sekolah.

Tapi emaknya terharu juga sih, setidaknya menambah keyakinan saya bahwa  bonding dia dan ayahnya insya Allah kuat.
Karena dia tau bahwa ada waktu khusus antara mereka berdua, dan dia tau "beda" feelnya antara ayah lagi standby di rumah atau enggak.

Dan akhirnya dia milih main ini aja. Kelihatan sepele tapi bermain dg material ini bermanfaat untuk sensorik dan motorik (halus) juga lho. Pengenalan awal berbagai bentuk geometri.  Dan pastinya melatih konsentrasi. Kalau saya sendiri melihatnya juga bikin anak lebih rileks. Bisa dia kreasikan sendiri bentuknya atau mengikuti pattern yang ada. ❤️❤️



(Idealnya pattern2 itu dikelompokkan sesuai jenisnya sehingga anak lebih mudah memilihnya, berhubung belum ada kotaknya jadi masuk 1 wadah aja 😬)

*nulis status sambil rehat, karena anak lagi makan eskrim 🀣


#tesselation
#sensorialarea
#montessoriinspired
#idebermainafifah
#sharingislearning



Melatih Kecerdasan Finansial Anak Part 2

Assalamualaikum, masih semangat dan terus semangat. 

Hari kedua tantangan di game level 8 masih berlanjut walaupun saya sebagai fasilitator anak jujur merasa sangat mikir keras untuk mengajak anak berpartisipasi dalam aktivitas ini. Baiklah, kita langsung saja mulai ya. Berdasarkan materi dari IIP Bunda Sayang, ada 5 hal yang akan kita kerjakan ke anak salah satunya adalah mengenalkan apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan. Gimana caranya? apakah cukup dengan obrolan? hmmm saya rasa ga cukup, harus dengan role play.

Jadi hari ini fifah mengajak main princess-princessan lalu saya bilang, saya mau jadi penjual dan dia jadi pembeli. Saya jelaskan singkat tentang konsep kebutuhan dan keinginan. 

S : "Nah kak, bunda mau ajak kakak latihan, seandainya kakak adalah seorang princess, kakak punya baju tapi kusut karena setrika kakak rusak, lalu kakak punya buku (sambil menunjuk rak bukunya) tapi ga ada yang baru dan kakak kepengen baca buku baru, lalu kakak juga kepengen banget makan apel padahal di kulkas ada mangga..... Kakak punya duit cuma selembar ini, dan cuma bisa beli 1 gak bisa beli ketiganya, kira-kira kakak akan beli yang mana?".

pilihan barang yang harus dia beli


F : Fifah mau beli tiga-tiganya aja bunda

S : Lho kan duit kakak ga cukup. Cuma ada selembar ini

F : Hmmm fifah mau beli buku aja bundaaa, fifah lebih suka bukuuuuu

S : Lho, baju kakak tapi kusut lho? gimana coba?

F : aduhhh, fifah tapi kan lebih senang baca. ya sudah-ya sudah, fifah beli dua-duanya ya bunda...

Sepertinya memang belum tersentuh dia, atau mungkin pembandingnya terlalu jomplang antara setrika, apel dan buku. Anak usia segini memang pikirannya terpusat pada diri dia dan keinginannya hihihi jadi sangat wajar menurut saya akhirnya dia tetap kokoh memilih beli buku.

But insightnya bukan itu, setidaknya dia sudah belajar mengenal apa itu pilihan. Sama seperti selama ini saat memilih baju sendiri sehabis mandi, nah kegiatan seperti ini bisa dibiasakan untuk terus dilatih. Misal saat ke superindo saat dia minta belikan balon atau tini wini biti hihihi. 

i love you nak, we never stop learning :D

Sekian cerita hari ke 2 kami, mari kita lanjut perjalanan besok. 

#hari2
#gamelevel8
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Melatih Kecerdasan Finansial Anak Usia DIni Part 1

Assalamualaikum bu ibu, sehat-sehat semua yaaa dan semoga selalu semangat. 

Kali ini postingan di Rumah Sayang Keluarga agak berat bagi saya, karena saya sedang mengikuti game level 8 kuliah bunda sayang Institut Ibu Profesional. 
Sejujurnya ini adalah aspek yang cukup berat karena saya sendiri masih terseok-seok menerapkan, lha trus diminta harus menularkannya ke anak, rasanya kan menantang syekali hihi. But, saya yakin Allah memberikan segala sesuatu di saat yang tepat, termasuk dalam mempelajari sesuatu. 

Berhubung fifah sudah 4.5 tahun, sepertinya memang sudah pas untuk diajak sedikit-sedikit mengenal kegiatan yang melatih kecerdasan finansial. Saya sharing sedikit rangkuman dari materi Institut Ibu Profesional kelas bunda sayang tentang apa itu kecerdasan finansial.

Cerdas Finansial  adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan. Di Ibu Profesional selalu ternginag-ngiang quote tentang : Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang dicari. 

Lalu bagaimana step by stepnya pada anak :

1. Anak-anak perlu dipahamkan terlebih dahulu bahwa rejeki itu datang dari sanga MAHA pemberi rejeki, sangat luas dan banyak, uang adalah sebagian kecil saja dari rejeki

2. Ajak anak berdialog tentang arti Kebutuhan dan Keinginan,  bantu anak untuk membuat skala prioritas.

3. Latih anak membuat mini budgrt sebagai bentuk latihan merencanakan berdasarkan skala prioritas.
4. Anak dilatih mengelola pendapatan berdasarkan ketentuan yang diyakini oleh keluarga kita
5.Selalu apresiai setiap anak menceritakan bagaimana dia menjalankan mini budget sesuai kesepakatan


Sejauh ini untuk no 1 dan 2 sudah sering kami lakukan walaupun tidak sempurna, tinggal bagaiman a untuk latihan mengelola keuangan bagi anak seusianya. Saya juga tidak mau buru-buru mengenalkan nominal uang, untuk hal itu biarlah fitrah belajarnya yang muncul dengan sendirinya. 

Lalu apa yang kami lakukan hari pertama? hmmm... membantu dia mengelola uangnya. Selama ini fifah sudah kami beri dompet sendiri, cuma dia belum paham makna penggunaannya.

Saya terinspirasi dari mba Dinda salah satu teman di kelas bunsay yang bikin 3 celengan (save, spend, share) untuk anaknya, maka kami mau coba ATM sesuai value keluarga kami hihihi

Awalnya saya sounding dulu mengenai pelajaran di bunsay ini ke fifah (saya selalu ceritakan, apapun yang saya kerjakan, saya dokumentasikan ada tujuannya, dan mencoba untuk melibatkan fifah). Saya sampaikan mulai sekarang kita belajar mengatur keuangan. Fifah bunda percaya pegang 3 celengan. Saat ada uang, bisa masukkan celengan. tiap bulan isinya kami bongkar. 

Planning kami, celengan yang saving digunakan untuk tabungan sekolah dan buku atau hal yang berbau edukasi, dan akan ditukar dalam bentuk emas biar naik investasinya sepertinya yang kami lakukan selama ini. Fifah sempat nanya, kok ditukar emas, saya coba jawab sederhana saja bahwa emas itu tidak mudah dibelanjakan dan harganya bisa naik kalau disimpan, dia diem aja no comment anymore hehehe. Selanjutnya celengan kedua share untuk berbagi ke yatim, masjid, pengemis dll. Celengan ke 3 untuk spend  belanja. Jika dia lagi di mall dan mau beli sesuatu dia harus pertimbangkan uang dia ini apakah cukup atau tidak. Namun tentu kami tetap sebagai pemberi modal ya ke dia hihi, celengan-celengan ini adalah salah satu cara mengenalkan konsep mengelola keuangan pada dia saat ini. Besok-besok kita coba jualan ya nak (balada ibu bapaknya hobi jualan :D)

memberi label celengan
saat kami membuat label di botol
Lalu saya langsung simulasi dengan memberi dia uang recehan. Saya minta dia berpikir bagaimana membagi uang-uang ini ke celengan. Awalnya dikelompokkan terlebih dahulu mana yang 500an, 200an , 100an dll (jadi sekalian melatih mengelompokkan nominal uang). 

Setelah itu baru saya minta dia bagi ke celngannya masing-masing. Ternyata yang paling banyak dia isi adalah saving karena alasan dia adalah "untuk fifah sekolah". Selanjutnya antara sharing dan spending terlihat sama hihihi.



https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=721239623835137137#editor/target=post;postID=3741942481820702148
saat dia mengelompokkan uang

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=721239623835137137#editor/target=post;postID=3741942481820702148
kondisi celengan setelah dia bagi

Sekian dulu sharing hari ini, mari kita lanjutkan aktivitas ini besok dengan aktivitas berikutnya.

Wasalam

#hari1
#gamelevel8
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
@institutibuprofesional 

Serunya Ikut Kumpul Dongeng Surabaya

Halo-halooo... Assalamualaikum bu ibu.

Kali ini saya mau sharing salah satu kegiatan outdoor kami saat mengikuti festival dongeng di Royal Plaza Surabaya oleh Komunitas Kumpul Dongeng Surabaya.

Ada hal penting yang selalu saya ingat dari para guru di seminar parenting yang saya ikuti bahwa pada anak usia dini yang perlu kita lakukan adalah tidak perlu buru-buru melabeli mereka dengan bakat tertentu tetapi dampingi saja mereka saat beraktivitas, suguhi mereka dengan beragam aktivitas (tentunya sesuaikan dg usia), catat sifat unik mereka saat beraktivitas (spontan maupun terencana) dan amati "binar" matanya, dari situ kita akan mengenali bakat anak.
❤❤❤

Berkegiatan di luar rumah menjadi salah satu aktivitas dalam kurikulum keluarga kami dan biasanya kami kerjakan saat weekend. Salah satu kegiatan yang selama ini belum fifah ikuti adalah kegiatan dongeng (oleh pendongeng asli,  bukan oleh emaknya πŸ˜†) . Beberapa kali ada event di Surabaya terkait mendongeng, selalu saja tabrakan jadwal dan akhirnya batal.

Kemarin alhamdulillah diizinkan Allah untuk ikut dalam acara peluncuran buku "Pahlawan Kota Kita" sekaligus memang bertepatan dengan hari Pahlawan. Acara ini diadakan oleh komunitas Kumpul Dongeng Surabaya dan Gramedia Royal Plaza.

Selain peluncuran buku, tentu ada kegiatan dongeng dari para pendongeng Kumpul Dongeng Surabaya serta berjumpa dengan para penulis bukunya.
Wow seru banget kan !

Ternyata bukan hanya itu, ada yang  menarik nih untuk emaknya fifah yaitu :mini talkshow "tips dan trik menulis buku cerita anak" oleh Kak Watiek Ideo dan Kak Nindia Nurmayasari.

Emaknya fifah langsung histeris dong, soalnya 2 penulis buku ini adalah penulis terkenal yang buku-bukunya tidak asing lagi di etalase gramedia. (Kalau dipikir-pikir, sejak jadi tukang bacain buku anak, emaknya jadi hapal nama-nama penulis buku anak ketimbang buku dewasa... termasuk lebih banyak baca buku anak daripada buku dewasaπŸ˜†πŸ˜†)

Gimana acaranya? SERU DAN BERMANFAAT BANGET. Alhamdulillah, fifah antusias banget.

Acara ini terbagi menjadi 2 sesi. Sesi 1 pagi adalah dongeng anak dan sesi 2 adalah mini talkshow.
Saat sesi 1 dimulai, fifah semangat banget sampe nanyain terus "kapan sih dongengnya mulai? Fifah disuruh dongeng juga gaπŸ˜†


Lalu yang seru lagi adalah saat kakak MC mengundang adik-adik maju ke depan, dia langsung maju.
Ga canggung, ketawa ceria menyimak cerita yang disampaikan bersama anak seusianya. Sedangkan saya dan pak suami melihat dia dari belakang sekaligus sebagai tukang foto hihi.

Jangankan fifah, jujur emaknya aja sangat menikmati dongeng dari para pendongeng ini. Kayaknya agak beda antara konsep dongeng jaman dulu dengan jaman sekarang, nuansanya lebih berwarna... sambil main gitar, sambil nyanyi. Pokoknya seru. Dan isi ceritanya juga bagus, karena bertema tentang Toleransi.



Ada sesi kuis tanya jawab, alhamdulillah si anak gadis ini ga malu buat nunjuk tangan dan jawabannya pun benar... ya Allah, emaknya bersyukur, bukan karena bisa jawabnya ya tapi artinya adalah walaupun sambil gerak sana sini, pindah sana sini, anak ini memperhatikan πŸ™ˆ

Selain itu diminta juga nyanyi ke depan... "siapa yang mau nyanyi ke depan".

Eh dia langsung maju. Diajak nyanyi bersama juga mau.

Yak, sebagai tukang observasi anak, kita bisa mencatat ya kegiatan anak ini ke arah mana kalau dari strenght cluster map di talents mapping.







Oh ya, melalui kegiatan ini, tentu bukan hanya fitrah bakat yang disentuh ya dan dicatat, melainkan aspek fitrah lainnya juga.

Contohnya pada fitrah individu dan sosial, kegiatan ini menjadi sarana bagi fifah untuk interaksi tidak hanya dengan anak-anak seusianya sekaligus lintas usia karena dia ngobrol juga sama kakak pendongengnya.

Kalau dari fitrah jasmani: nari, nyanyi bareng bikin dia bergerak.

Untuk fitrah estetika dan bahasa : afifah jadi banyak mengenal kosakata baru, belajar menyimpulkan cerita karena diajak untuk tanya jawab juga. Pada saat anak mendengarkan dongeng sebenarnya melatih anak untuk menyimak, ini juga bisa dikaitkan dengan aspek perkembangan literasi/bahasa ya.

Aspek fitrah belajar dan bernalar bisa dikaitkan dengan fitrah perkembangan: kegiatan ini memberi ruang bagi anak untuk  berimajinasi.

Aspek fitrah keimanan : Ajang untuk mengenalkan nilai-nilai kebaikan melalui cerita, karena tadi bahasannya tentang "toleransi" antar hewan. Walaupun kita berbeda, namun kita ini sama-sama ciptaan Tuhan.

Selanjutnya mari kita tanyakan pendapat fifah sendiri mengenai kegiatan ini biar emaknya ga cuma menebak-nebak aja hihihi 😘😘

Oh ya, selain dongeng kan ada juga sesi mini talkshow. Kebetulan saya mencatat isi diskusi hari ini. Walaupun waktunya sebentar, tapi kelihatan banget mba Watiek dan mba Maya ini sangat kaya akan ilmu plus tidak pelit berbagi.


Beberapa hal yang saya perlu highlight dari materi mereka adalah :

1. Sumber ide cerita anak bisa dari mana saja, dari kegiatan sehari-hari dan juga interaksi dengan anak-anak, amati topik dan diskusi dari film anak

2. Perbanyak membaca biar gak stagnan menulis ( hihihi ini bener banget ya, kadang kita kesulitan menulis atau stagnan karena bingung materinya apa karena kurang riset)

3. Biar ga males-malesan selalu tekankan motivasi kita apa dalam menulis, jangan cari-cari waktu karena menulis bukan selingan melainkan luangkanlah waktu

daan banyakkkkk lagi....
Kemarin juga saat ikut acara ini gak sampai selesai karena si fifah mulai bosen. Tapi tidak lupa dong, saya ga menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa foto bareng dengan penulis idola ini sekaligus meminta tanda tangan mereka di buku.



Minggu depan akan ada puncak acara festival dongeng Surabaya, tapi kami belum memastikan bisa ikutan karena hari Sabtu sudah ada acara outbond, takutnya si fifah kecapekan untuk ikut di hari Minggunya. Alhamdulillah saya bersyukur bisa ikutan acara ini, SANGAT BERMANFAAT. 

Adakah keinginan menulis buku anak? Ada, tapi harus banyak belajar dulu kayaknya hahahaha. 

Sekian ya sharing kami kali ini dari Rumah Sayang Keluarga. Semoga bermanfaat. 

Wasalam.

Kembali Menulis Blog

Setelah beberapa lama vakum di dunia blog, akhirnya saya kembali mengumpulkan semangat untuk menulis. Karena ternyata sensasi menulis di blog sangat berbeda dengan menulis di media sosial.

Media sosial terlalu interaktif, banyak pertimbangan yang harus dituliskan apalagi saat melihat follower maupun akun pertemanan. Blog menjadi ruang yang lebih hening walaupun pada dasarnya tetap bisa dilihat banyak orang, blog ibaratnya rumah pribadi ! πŸ’ž

Selain itu, saya juga terinspirasi dari sebuah buku yang baru saja 2 hari kemarin saya baca, yaitu buku seorang anak usia 9 tahun yang sempat viral di bulan September. Buku itu judulnya adalah "Mengapa Aku Harus Membaca" . 
Sempat saya review sedikit di FB dan Instagram pribadi disini :
Review Buku


Intinya saya merasa malu dengan si adik penulis, bahwa bacaan saya masih sangat sedikit dan yang paling miris lagi adalah saya kurang menulis. Sehingga kadang saya berpikir, sepertinya ada yang hilang dari diri saya selama beberapa tahun terakhir. Apa itu? MENULIS !!

Di buku ini dikatakan, ibarat sebuah gelas, jika otak kita isi terus dengan air dalam hal ini bacaan maka lama-lama air bisa tumpah, atau otak bisa meledak. Ya, benar sekali ! 


Dulu saat masih rutin menulis blog disini :
pumi2008blog.wordpress.com (sayangnya blog ini sudah saya hapus karena isinya kebanyakan curhatan πŸ˜†), ada rasa nyaman setiap menyalurkan sebuah tulisan walaupun mungkin tulisan sifatnya remah-remah, tapi tidak terlalu peduli karena menulis di blog sendiri. Berbeda tentunya saat menulis di media sosial, akan ada ribuan orang melihat atau beberapa orang yang like/comment. Memang ada rasa senang saat berinteraksi, namun hal itu berbeda dengan menulis sudut pandang di rumah sendiri. 

Terkait dengan hal ini juga, menyempatkan menulis di blog secara tidak langsung menjadi salah satu cara saya untuk memanage waktu. Daripada scrolling sosial media hingga larut malam, rasanya akan lebih menyenangkan jika melakukan riset dan menuliskannya, ah ini yang rasanya saya rindukan 😁

Oh ya, menulis di blog secara tidak langsung menyimpan rekam jejak. Berbeda sensasi dengan sosial media seperti FB dan IG, walaupun tentu saja tetap harus mengikuti etika menulis dengan bahasa yang sopan serta menjaga privacy tetap aman. Saat menulis blog, tetap ada keinginan di dalam diri : membuat tulisan yang bermanfaat dan menjadi amal jariyah. 

Pernah juga kan kita membaca artikel tentang : menulis adalah salah satu terapi yang menyehatkan jiwa. 
Saya menyetujui hal ini. Coba cek disini artikel yang membahasnya : 

Kalau dari hasil talents mapping, saya sendiri memiliki personal branding sebagai journalis dan marketer (yang paham talents mapping pasti paham makna branding di atas),  dan hal itu membuat saya rasanya lega ketika bisa melaporkan sebuah kejadian dalam suatu tulisan. Tapi lagi-lagi saya berpikir, ga mungkin dong setiap hari saya harus laporan tulisan kejadian di sosmed fb dan ig karena kesannya "kok ya eksis banget" πŸ™„ 
Di sosmed juga menulisnya terbatas dan ga bisa panjang gaesss... Rasanya ga puas. 

Jadi, saya akhirnya tetapkan untuk kembali menulis di blog, dan memilih blogger sebagai wadahnya. Semoga konsisten *ngomong ke diri sendiri 😘

Oh ya, saat ini karena saya benar-benar ingin lebih tau teori tentang menulis di blog dan hal-hal menarik di dalamnya, saya mengikuti kelas kulwap "Kelas Ngeblog Seru" bimbingan mbak Naqiyyah Syam (Pasti udah pada tahu kan dengan beliau). 

Gambar ini saya ambil dari akun IG beliau ya :



Karena kelas sedang berlangsung, saya sekaligus mempraktikkan untuk menulis di blog saya ini. 

Oh ya satu lagi, dulu saya pernah lomba blog mengenai review produk body care dan menang, nah pengalaman itu menjadi suatu hal yang menyenangkan (bukan tentang kompetisinya ya, tapi seru bisa menyalurkan tulisan menjadi suatu karya yang bermanfaat dan tentunya mendapat hadiah 🀣). Jadi, salah satu motivasi lain selain menyalurkan hobi menulis tentunya ingin memicu diri ini supaya tulisan saya menjadi sebuah karya yang bermanfaat bagi banyak orang. 

Kalau kamu sendiri, apa alasanmu menulis blog? Atau apa alasanmu kembali menulis di blog?

Sekian tulisan ke-3 ini. Semoga bermanfaat ✍️




Perkembangan Anak Usia Dini

Berdasarkan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak pada Pendidikan Anak Usia Dini, Permendikbud 2014, terdapat 6 aspek perkembangan dalam diri seorang anak meliputi :
✔️aspek agama dan moral,
✔️aspek perkembangan fisik motorik
✔️aspek bahasa
✔️aspek sosial emosional
✔️aspek kognitif
✔️aspek Seni
Perkembangan merupakan integrasi dari setiap aspek tersebut sehingga dalam menilai perkembangan seorang anak, harus utuh, tidak bisa hanya menilai salah satu saja, karena setiap aspek sama pentingnya dan saling berkaitan termasuk dalam memilihkan aktivitas yang sesuai bagi seorang anak.
Dalam obrolan sehari-hari saya sering mendengar percakapan dari sesama ibu, kalau usia 3 th seharusnya anak udah bisa ngapain ya mba?
Ada anak yang usianya 4 tahun udah bisa mengarang cerita sendiri lho mba...
Gimana supaya anak saya bisa diajak manjat alat permainan di taman ya, suka takut padahal umurnya sudah 5 tahun dll...
Ternyata, salah satu cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah dengan mempelajari indikator perkembangan anak usia dini.
Indikator ini bermanfaat sekali bu ibu untuk kita. Terutama dalam memilih stimulasi yang sesuai dengan perkembangan anak, sehingga insya Allah ibu-ibu ga akan kehabisan ide aktivitas di rumah yang tentunya bertujuan dan bermanfaat bagi perkembangan anak kita.
Berikut rangkuman pentingnya memahami indikator perkembangan :

✔️sbg alat bantu dalam menentukan stimulasi yang sesuai saat beraktivitas di rumah
✔️sbg alat bantu untuk menilai perkembangan anak dari hari ke hari
✔️sbg alat bantu untuk melakukan deteksi dini di rumah jika terjadi keterlambatan/kelainan.

Nah selain menilai indikator perkembangan, jangan lupa menilai indikator pertumbuhan juga ya (BB, TB, Lingkar Kepala, Lingkar Lengan Atas) karena pertumbuhan tidak bisa dipisahkan dg perkembangan.
Contoh sederhananya, untuk bisa melakukan aktivitas yang mendukung aspek perkembangan fisik, tentu anak harus mendapatkan nutrisi yang cukup, biar bertenaga πŸ’ͺ
Kalau ada yang bingung dimana mencari indikator perkembangan anak usia dini, coba kita ketik aja di google indikator perkembangan anak usia dini.... insya allah bisa di download ya bu ibu.
Atau boleh ke link ini ya, sudah ada sesuai tahapan usia anak...


Kalau untuk aktivitas yang tepat, selain dari aspek indikator perkembangan, coba dilihat juga dari kesiapan dan minat anak ya. Karena walaupun ide main/aktivitas udah oke dan sesuai, kalau anak belum minat, kita ga bisa paksa juga. Perasaan yang ada dalam diri anak juga menjadi hal utama. πŸ˜˜
Semoga bermanfaat ❤️