THR 2018 (Saat LDR berakhir)

THR OH THR... (edisi curhat)


Akhir bulan ini bertepatan dengan pertengahan bulan ramadhan, dan itu membuat suasana timeline hangat dengan pembahasan THR ðŸ¤£

Namun saya dan suami menyadari satu hal, bahwa ada yang berbeda dari THR tahun ini.
Ya, lebih tepatnya kami berdua sama-sama gak dapat THR ðŸ˜‚
Biasanya, memang suasana begini di tahun-tahun sebelumnya, saya dan suami akan saling memberi laporan "THR udah masuk ke rekening A" lalu kami akan langsung membuat rancangan alokasi dana THR tersebut.

Jika di flashback, rasanya sungguh nekat kami berdua mengambil keputusan untuk bersama, dengan melepas dua zona nyaman yang sedang kami jalani. 
Suami yang nyaman sebagai seorang dokter perusahaan dengan income yang lumayan untuk ukuran pasangan muda serta fasilitas kesehatan, pelatihan, dll yang sangat memadai dan memuaskan saat itu. 

Serta saya yang bisa dibilang baru selesai sekolah, dengan idealisme lulusan baru menggebu dan baru mau mulai merintis karir kembali di tempat saya bekerja. Rasanya tidak menyangka jika kami akan berada di zona waktu seperti sekarang.


Suami yang sempat menunda beberapa periode untuk mulai sekolah dan akhirnya memantapkan hati "sekaranglah saatnya" sekolah. 
Karena sekolah adalah salah satu pilihan untuk menuntut ilmu, dan sesuai janji Allah, "Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu" (bukan tentang dalam hal harta, namun dengan ilmu tentunya diharapkan bisa memberi manfaat ke banyak orang).

Saat itu juga kami yakin, pilihan LDR tetap bisa kami pilih lagi dengan opsi tabungan suami dan penghasilan dari saya yang masih bekerja sebagai sumber kehidupan kami sehari-hari.
Suami juga sempat beberapa kali ngomong dengan saya "mohon maaf kalau secara tidak langsung selama kakak sekolah, kakak akan memakan hartamu, karena istri itu tidak wajib mencari nafkah, itu adalah kewajiban suami" (selama ini kami selalu menjalankan konsep : duit suami adalah duit istri, dan duit istri ya punya istri ðŸ˜‚).
Suami juga mengatakan bahwa, walaupun mungkin tidak banyak, dia tetap akan mencari nafkah selama masa pendidikan. Salah satunya dengan ikut berpraktik di klinik sebagai dokter part time.
Kami menyepakati itu semua, dan mencoba menjalani.

Namun saat 1 bulan lebih mencoba, apalagi saat saya sempat main ke kostan suami ketika ada tugas keluar kota, saya miris.
Miris melihat suami harus masak sendiri, tidur sendiri (selama ini sih kami LDR, tapi ya beda kondisinya karena suami terurus di camp khusus, kamar yang nyaman, makanan catering, pakaian laundry, dan lain-lain juga aman).
Serta belum lagi jadwal kami bertemu hanya di ujung minggu, akan sangat menghabiskan banyak biaya kalau tiap minggu suami harus bolak-balik surabaya-palembang padahal ketemunya ga sampai 48 jam ðŸ¤£.

Paling berdampak juga adalah Afifah anak kami, fifah yang selalu suka bertanya "ayah kemana? kenapa sekolah di surabaya? kenapa ga ajak kita?.

Saat itu, hati saya tidak tenang, bekerja juga rasanya tidak tenang dan merasa tidak profesional, pikiran bercabang dan kok rasanya was-was...
Was-was bagaimana suami, bagaimana anak, terus aja muter-muter gitu gak selesai-selesai ðŸ˜…, hingga akhirnya saya pilih untuk memulai istikhoroh, banyak juga sharing ke beberapa senior maupun teman-teman.
Kalau dari orang tua : pilihan ada di tangan kami, kami yang menjalani dan tiap pilihan pasti ada konsekuensi.
Kalau dari para senior laki-laki bilangnya : ikut suami, mau bagaimanapun, lelaki itu gak akan kuat tanpa istrinya (nah lhooo ) ðŸ˜„
Ada juga yang bilang : 
sayang, kamu baru mulai merintis karir, toh juga 3-4 tahun ga akan lama, kalian sudah 5 tahun kan pernah LDR, pasti ga akan terasa. Kalian harus tangguh, begitulah menikah, gak selamanya indah. Lagipula jaman sudah canggih, ada video call, pesawat dan sebagainya.

Ada lagi yang bilang :
Ikut, LDR antara suami sdg sekolah atau suami sdg bekerja itu beda pressure-nya.


Aduhhh... makin seringlah berputar-putar pikiran ini di kepala sambil memastikan ke suami "are you okay disana, sendirian".
Suami ga pernah menyatakan aku gak sanggup, tapi pernah satu malam, saat suami pulang kerumah akhir pekan, dia memeluk sambil bilang "kok rasanyaa gak kuat ya" trus dia tidur.
Nah..ntah dia sadar atau tidak pada saat dia ngomong, tapi setelah dia ngomong itu saya ga pikir panjang, saya katakan padanya untuk berhenti kerja dan ikut dia.

Gak bisa diganggu gugat. Saya gak mau terlalu lama tidak tenang, saya juga sudah istikharah. Dan saya yakin, fifah butuh kami berdua, bukan hanya secara fisik bersama tapi benar-benar hati yang bersama. Memang sih ada ahli parenting yang mengatakan, yang penting "kualitas waktu bersama anak bukan kuantitasnya".
Tapi dengan kondisi ayahnya jauh beda kota, pagi sore dia dirumah nenek, dan saya baru bisa jemput sampai jam 5-an sore sepulang kerja serta kualitas waktu yang bisa saya optimalkan hanya saat magrib-isya dan hari minggu, rasanya saya ga sehebat itu sebagai ibu, ini bukan jiwa saya, bukan pilihan saya, saya gak sanggup.

Saya takut, takutnya saya menyesal karena melewatkan masa emas bersamanya padahal dulu saya bersujud-sujud memohon kepada Allah, agar memiliki kesempatan untuk memiliki dia.
Dan satu hal penting, mendidik anak adalah kewajiban saya sebagai seorang ibu dan itu tidak bisa ditawar, apakah mungkin dengan kondisi seperti ini saya lakukan?
Hingga akhirnya saya memantapkan hati untuk pindah, dengan kondisi yang serba cepat prosesnya, bahkan alhamdulillah saya diberi pilihan cuti diluar tanggungan yang artinya masih tetap bisa bekerja jika saya kembali walaupun saya juga tidak digaji selama saya cuti. 

Kemudian rumah segera kami kontrakkan, dan alhamdulillah yang mengontrak rumah adalah teman kami sendiri sehingga kami bisa dengan tenang meninggalkan rumah saat kami pindah.

Serta urusan mencari rumah di surabaya pun, sepertinya sangat mudah, sesuai harapan dekat dengan RS dan kondisi rumah yang nyaman untuk saya yang berdua saja bareng fifah saat suami sekolah.

Khawatir dengan penghasilan tentu ada. Kenapa? karena kami sepakat ga kerja keluar rumah, khususnya saya.
Mau ajak fifah kerja, sepertinya juga tidak memungkinkan, gak setiap instansi membolehkan membawa anak saat kerja dan saya juga berstatus cuti.
Mau nitip ke ART atau penitipan anak, lalu apa guna saya pindah ya jika tidak membersamainya? Hehehe.
Tugas mencari nafkah bukan kewajiban istri, kewajiban istri adalah mendidik anak ðŸ˜„
Hingga akhirnya makin kesini makin menyadari satu hal...

benar kata seorang ustad di salah satu ceramahnya "rejeki itu sudah ditetapkan nilainya bagi seseorang/pasangan, nilainya sekian. Mau dia di kota A, kota B, atau kerja A atau kerja B, sudah ada takarannya ga tertukar, tinggal bagaimana usaha menjemputnya".

Dulu mungkin dengan cara kami bekerja berdua diluar, sekarang mungkin dengan kolaborasi kami berdua dengan berbisnis bersama. Bisnis yang memungkinkan saya tetap bisa optimal dirumah, dan suami tetap optimal bersekolah.
Dan benar adanya, hanya berubah cara menjemputnya saja. Penghasilan kami perbulan tidak berkurang sedikitpun dari penghasilan kami dulu saat bekerja berdua, bahkan sekarang banyakan lebihnya...terutama kelebihan waktu dan kesempatan untuk bersama.
Hingga saya sempat bertanya kepada seorang ustad "dulu, kami jualan ini juga, tapi ga gini banget omsetnya, kok bisa ya ustad"... lalu ustad menjawab : iya itulah berkahnya, berkah memilih ikut suami, berkah hidup berkumpul sama-sama, berkah karena istri ingin melayani suami", Allah mencatat apa yang kita niatkan, bahkan baru sebatas niatpun itu sudah dianggap sebagai suatu kebaikan.
Duhh, rasanya mau nangis. Nangis karena apa sih yang dicari-cari seorang istri kalau bukan ketenangan hati suaminya, bukankah setelah Allah, maka kewajiban untuk patuh adalah kepada suami?
Maka di zona waktu sekarang, mumpung ada kesempatan, mari manfaatkan sebaik-baiknya kebersamaan ini, karena kita tidak pernah tau apa yang terjadi 1 jam ke depan apalagi satu tahun ke depan, apalagi 3-4 tahun ke depan.
Yang saya tau, Jika suami membahagiakan istri katanya pahalanya banyak dan rejekinya bertambah. Lalu jika istri membahagiakan suami, katanya surga yang ia dapat.
Semoga kita bisa menjadi pasangan yang saling membahagiakan dan terus belajar menjadi lebih baik.
Jadi setelah berpanjang- panjang cerita, inti tulisan ini apa? Hahaha intinya jangan pernah takut tidak mendapatkan rejeki, karena setiap dari kita sudah ada rejekinya masing-masing, gak akan tertukar sedikitpun.
Dan rejeki itu gak selamanya tentang uang, menjalani hidup dengan ketenangan hati tanpa rasa was-was pun juga jadi rejeki yang tak ternilai. Bisa berkumpul dengan orang tercinta selama 1x24 jam pun juga rejeki luar biasa mahal harganya.
Perlu juga dicatat bahwa tulisan ini tidak membahas tentang status pasangan LDR atau non LDR, tentang status istri kerja atau tidak kerja, no... itu tidak usah diperdebatkan, karena saya sudah prnah menjalani beratnya menahan rindu saat LDR 5 tahun, jadi gak perlulah ditambah embel-embel "ayo stop LDR" , semua juga saya yakin ga mau🤣, karena tiap rumah tangga itu juga punya zona waktu masing-masing.

Bagi yang sedang menjalani LDR tetap kuat, karena yakin itu tak akan selamanya, dan ketika waktunya tiba, kalian akan benar-benar mensyukuri bagaimana rasanya bisa hidup bersama.

Bagi ibu yang bekerja diluar rumah juga selalu kuat dan semangat, karena peranmu besar, bermanfaat untuk masyarakat juga untuk keluarga di rumah. STRONG ❤️
Kalau sampai ada yang nanya "kalau memang sudah ditakdirkan LDR sampai seumur hidup gimana puza"... saya gak berani jawab, karena saya tidak ada di posisi itu. Silakan ambil pilihan masing-masing, selalu ingat bahwa waktu tidak pernah bisa terulang.
Dan sebagai penutup...
THR tahun ini adalah THR terbesar kami, karena kami bisa melewati ramadhan utuh full bersama sebulan tanpa terpisah rumah, bisa merasakan buka bersama bahkan melewatkan sahur bersama (melewatkan dalam arti sebenarnya, karena sama-sama ketiduran hingga azan subuh datang ðŸ¤£).
kami tidak tau bagaimana THR tahun depan, yang kami tau, kami bersyukur bisa mendapat THR sebesar ini selama ramadhan.


Add caption

Tidak ada komentar:

Posting Komentar